Gw suka buku dan gw suka membaca. Yaaah bacaan gw ga berat2 amat sih, yang ringan2 aja. Dalam rangka menularkan kebiasaan membaca ke anak2 gw, gw pun rajin membelikan buku2 buat mereka. Buku pertama buat Allyssa gw beli waktu dia masih berumur 3 bulan, buku kain sih, tapi tetep aja buku kan judulnya :p.
Sekitar dua tahun yang lalu, sewaktu lagi mampir di gramedia Jakarta, gw membeli 2 buku di bawah ini.
Dan didalamnya terdapat salah satu cerita berjudul ini.
Sementara di buku satunya ada cerita seperti ini,
Kenapa gw beliin mereka buku dengan cerita2 di atas?
Gw juga ga ngerti kenapa. Tapi kalo dipikir2, gw beli buku tersebut lebih buat gw daripada buat anak2. Sampai sekarang gw masih mencari gambaran, apa yang harus gw sampaikan jika pada suatu hari kelak gw harus menjelaskan ke mereka tentang keluarga yang retak. Lewat buku2 tersebut, gw berharap bisa melihat dari sudut pandang anak mengenai masalah perpisahan. Disamping gw juga berharap buku2 tersebut bisa jadi media buat anak2 gw yang mungkin juga nanti bakal ngerasa sedih dan bingung.Cukup lama 2 buku diatas jadi penghuni rak buku anak2 tanpa pernah dibaca. Sekitar 2 bulan yang lalu, Allyssa found the books and asked mb' Sri to read her the stories. Malemnya, dia minta gw bacain cerita2 tersebut lagi. Well, ga spesifik cuma 2 cerita di atas sih. Cerita2 yang lain pun juga gw bacain.
Selesai baca buku, sambil tertawa geli, she asked me a single question ,"Papa mau menikah lagi ma?"
Gw cuma angkat bahu dan bilang "Allyssa tanya langsung aja sama papa". And that's it, cuma itu aja, ga ada kelanjutan pertanyaan lain.
Sekitar sebulan yang lalu, Gramedia mengadakan pameran di kota gw dan gw menemukan cerita dengan judul seperti dibawah ini.
Yang isinya kurang lebih begini.
Gw membeli buku tersebut dan membacakannya buat Allyssa dan Audra. Daaaan, no comment. Kedua bocah tersebut ga bertanya apapun.
Gw ga berharap anak2 gw bakal bertanya sekarang tentang kondisi keluarga mereka. Entah kenapa, gw selalu ngerasa belum siap buat menjelaskan ke mereka. Gw selalu ngerasa, "Kayaknya belum sekarang. Ntar kalo mereka sedikit lebih besar".
Tapi teteup aja kalo ketemu cerita anak2 yang bernuansa perpisahan orang tua, gw tertarik buat membeli. Tujuan nya lebih untuk menunjukkan ke mereka bahwa "Family separation is not children's fault. It may not be a nice experience, but sometimes it could happen. But dont worry, it's not the end of the world. Lihat aja di cerita, they're all survive and continue their lives and find another happiness." Seminggu yang lalu, papanya anak2 membawakan buku dibawah ini.
Didalamnya ada cerita seperti ini.
Bukan cuma gw yang kebagian bacain buku tersebut, Allyssa dan Audra juga minta bacain buku ke eyangnya.
Kemarin sore, Audra, out of nowhere, sudenly asked eyang nini this question, "Eyang, papanya mama kan bisa bobo' di rumah kita. Kenapa papaku ga pernah bobo' di rumah kita?"
Jawaban eyang nini adalah "Mungkin dede' harus tanya papa nya. Eyang juga pengen tahu kenapa."
(Thank you so much mom, for not taking side infront of my kids, and let us handle "this")
On the same day, at night, Allyssa also asked her a question, "Eyang, apa mama sama papa ku itu pisah ya?".
Well, that question was left unanswered, she fell asleep before my mom had something to say.
Dan berbagai pertanyaan langsung beredar di kepala gw.
Apa sekarang sudah saatnya ya? Memberi tahu ke mereka tentang kondisi yang sebenernya. Tadinya kita bermaksud untuk bersama2 menjelaskan kondisi yang sebenernya ke anak2 waktu mereka SD. Tapi kayaknya sekarangpun mereka udah bisa berpikir ke arah sana. Apa mereka sudah siap ya?
Apa sekarang waktunya udah tepat?
Kalo mereka tahu, kira2 apa yang bakal berubah?
Apa kira2 bakal berpengaruh ke kehidupan sosial mereka?
Apa mereka bakal jadi minder dan menarik diri dari pergaulan setelah tau kalo keluarga mereka terpecah?
Apa lingkungan sekitar mereka bakal cukup maklum dan ga menghakimi?
Apa mereka bakal kecewa dengan gw sebagai orang tua?
Apa mereka bakal menganggap gw sebagai orang tua yang buruk?
Apa gw yang sebenernya belum siap mental ya?
Apa gw yang terlalu takut buat melihat kenyataan ya?
Sampai sekarang gw masih belum mampu memutuskan.