Minggu, 27 Januari 2013

I'm A Credit Card Hater

Kartu kredit emang udah jadi bagian (gaya) hidup bagi sebagian besar masyarakat. Gw patut bersyukur karena sampai sekarang gw ga termasuk golongan orang2 tersebut. Mungkin karena sifat gw yang bawaannya hemat, atau mungkin berhubungan dengan ajaran ortu gw untuk sebisa mungkin tidak berhutang dan tidak bergaya hidup mewah. Jadi, dari dulu gw ga pernah tertarik untuk punya kartu kredit.

Pas gw residen, ada tawaran dari salah satu bank untuk bikin kartu kredit, tanpa syarat apapun, cukup isi formulir. Temen2 gw berbondong2 mendaftar. Nnnnnah gw? Tertarik pun tidak. Apalagi saat itu gw belum punya pekerjaan, jadi gw cukup bisa mengukur kemampuan finansial gw. Temen gw yg senasib kaya' gw (cuma anak sekolah tanpa penghasilan), ikut apply dan rada heran karna gw ga ikutan. "Lumayan kan ki, setahun bebas biaya. Dan kalo lagi seminar, kita bisa beli buku atau alat pake kartu kredit", gitu katanya. Gw tetep ga tertarik, gw cukup cerdas untuk menilai kemampuan finansial gw. Pada suatu waktu, pas gw dan temen2 residen gw lagi d bandara untuk seminar di luar kota, salah satu temen gw nyeletuk "Kita nunggu di lounge aja yuks, kan tinggal nunjukin kartu kredit ini". Pas gw bilang kalo gw ga punya kartu kredit, kembali mereka terheran2, kenapa gw ga ikutan apply.

Dari dulu, dalam benak gw sudah tertanam kalo kartu kredit itu sama dengan kartu untuk berhutang. Dan gw dididik untuk tidak berhutang dengan mudah. Kalo pengen suatu barang, ya beli cash. Kalau uangnya ga cukup ya nabung dulu, baru beli barangnya.

Pas gw udah kerja dan bermimpi punya rumah sendiri, gw sadar kalo gw harus nabung. Harga rumah d lokasi yg gw inginkan cukup tinggi. Dan gw berhemat cukup ketat, ga jalan2, ga jajan, ga beli baju atau tas atau sepatu atau kebutuhan2 aksesoris wanita yang lain. Tapi terjadi "sesuatu dan lain hal" yang mendorong gw harus punya rumah walaupun tabungan gw blm cukup, akhirnya gw memutuskan untuk mengambil KPR. Beli rumah secara kredit di Bank. Gw yang pada waktu itu awam, percaya bahwa bank bakal membantu gw mewujudkan impian gw. Pas akad ditandatangani, gw baru tersadar dengan besarnya komponen2 biaya yg harus gw tanggung. Dan menginjak tahun kedua KPR, suku bunga kredit melonjak naik, dari yg sebelumnya 8 koma sekian persen melompat ke kisaran 15% pertahun. Saat itulah mata gw jadi terbuka lebar. Bank bukan lembaga sosial yang membantu kita tanpa syarat. Bank tetap saja institusi yang mencari keuntungan. Dan orang2 yang terlibat kredit seperti gw, secara teratur memberi keuntungan kepada bank melalui bunga yg gw bayar. Dan ga ada yang salah dengan hal tersebut. Bank memang diperbolehkan pemerintah kok buat menarik bunga (yg menurut gw relatif tinggi) dari konsumennya. Tinggal kita sebagai konsumen yg harus jeli dan tahu diri, kapan kita memang perlu berhutang, kapan tidak. In my case, gw yg ga rela menyumbang ke bank, bener2 kerja banting tulang buat nutup itu KPR. Alhamdulillah setelah 3 tahun, gw berhasil menutup KPR, walaupun tetep ada bantuan soft loan dari ortu gw (yang Insya Allah trimester pertama tahun ini bakal lunas).

The same thing goes to credit card. Bank sebagai penerbit kartu kredit, niatnya yaaaa tetep aja buat nyari untung. Dan supaya laku, tuh kartu kredit dipasarkan oleh mbak2 dan mas2 yang rapi jali bin modis dan manis dengan senyum senantiasa mengembang. Disertai berbagai kemudahan buat aplikasi sampai rayuan2 gombal kaya' iuran gratis selama setahun, cicilan 0% ataupun diskon d beberapa tempat tertentu. Ga ada yang salah dengan tehnik marketing begitu, namanya juga usaha buat jual suatu produk. Masalahnya, kebanyakan orang tidak cukup cerdas buat paham bahwa uang yang ada di kartu kredit BUKAN PUNYA KITA. Itu sekedar fasilitas dari bank buat menunda pembayaran selama 20 sd 30 hari, setelah itu ya harus dilunasi dengan uang kita.Membayar dengan mencicil berarti kita merelakan membayar bunga lebih tinggi. Membayar dengan minimum payment sama aja dengan memasukkan diri dalam lingkaran pemberi upeti tetap pada bank penerbit. Ga mau atau ga sanggup bayar? Siap2in aja mental buat perang lahir batin dengan pihak bank dan debt collector. And if that things happened, konsumen bukan lagi di posisi raja yang di manja dengan senyum manis, melainkan berada di urutan kasta paling bawah, penjahat yang dipandang sebelah mata dengan sinis.

Yups, gw adalah pembenci kartu kredit. Orang2 yang kenal dekat dengan gw, know exactly the reason why. Pada satu titik dalam kehidupan gw, masalah kartu kredit ini bener2 telah memporak porandakan salah satu mimpi besar gw, eventhough I was not directly involved :-(. Gw membenci kartu kredit dan bertekad untuk tidak pernah menggunakannya.

Tapi ternyata gw ga bisa terus2an bermusuhan dengan kartu kredit. Pada waktu gw harus bayar seminar d luar negeri, they ask for CC. Pada waktu gw harus bayar hotel d agoda, they ask for CC. Pada waktu gw harus booking pesawat online, they also ask for CC. So I gave up, dan berusaha berdamai dengan kartu kredit. I allow myself to make ONE credit card. Dan gw juga mengunci sejumlah rupiah tabungan gw, sesuai dengan limit yang di berikan. Dan gw mendisiplinkan diri gw untuk membayar lunas setiap tagihan yang datang.

Para perencana keuangan bilang kalo kartu kredit tetep ada gunanya, terutama untuk membantu sebagai deposit pada kondisi darurat di rumah sakit. Temen gw bilang CC berguna untuk menunjukkan kredibilitas finansial kita pada saat kita mengajukan kredit2 semacam KPR, KTA, dsb d Bank.

Gw ga sepenuhnya sependapat.

Kalo cuma buat biaya rumah sakit, kalo memang uang tunai yg kita pegang ga cukup msh ada kartu debit dan atm. Atau sekalian aja ikutan asuransi kesehatan yang ada kartunya biar tenang. Dan buat menilai rekam jejak finansial kita masih banyak cara lain kok, bukti bayar pajak, rekening tabungan, deposito, semua bisa dipake.

Yaps, gw memang masih tetap anti kartu kredit. Kalo bisa gw pengen nganjurin ke semua orang yang berminat bikin kartu kredit untuk berpikir berulang2. Apa bener2 perlu? Trus kalo emang perlu, keperluannya itu buat apa? Kira2 tuh keperluan masuk kategori konsumtif bukan? Apa ga ada jalan lain buat membiayai keperluan itu tanpa menggunakan kartu kredit? Okelah kita punya pekerjaan dengan gaji tetap yang lumayan gede. Tapi yang paling penting lagi adalah mengukur stabilitas emosi kita dalam menggunakan CC. Kalo kita beranggapan bahwa uang di CC adalah hak milik kita yang bisa d gunakan semau kita, apalagi sampe bangga dengan limit besar yang diberikan bank penerbit, wah mending jangan bikin CC dulu dah. Kalo masih nekat bikin, tinggal masalah waktu aja sebelum seluruh gaji dan tabungan terkuras buat nyicil si CC ini.

When we start to use CC to buy things that we can not afford to buy, it means we live a lifestyle we dont deserve.

Dalam kitab suci agama gw, Al-Quran surat An-Najm (53) ayat 48 dikatakan bahwa "...Dia lah yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan". Gw menafsirkannya secara sederhana. Bahwa rezeki itu datang dari Allah, dan kita wajib mensyukuri dan mencukupkan rezeki yang kita terima. Tidak berlebihan, sesuai dengan kemampuan kita.

Kalo rezekinya cukup buat beli rumah di RSS, ga perlu maksa ambil KPR di perumahan mewah.

Kalo rezekinya cukup buat beli motor, ga perlu maksa ambil KTA buat beli CRV.

Kalo rezekinya cukup buat belanja di pasar tradisional dan masak sendiri di rumah, ga perlu maksa makan di pizza hut tiap hari dan bayar pake CC.

Jadi sekali lagi please....for everyone who wants to make a credit card, think! And then reconsider it, and think over and over again.